Well, and Come... :)

Tampilkan postingan dengan label Pena Platina Bertinta Emas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pena Platina Bertinta Emas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

Balada Pasukan Kuning di Bumi Latemmamala


Sampah…ya sampah
Melihat sampah membuatku teringat warna kuning
Bukan warna yang sakral ataupun mistik
Tapi, warna kebesaran pahlawan Bumi Latemmamala
Pasukan kuning

Mereka bukanlah pasukan kuning yang sibuk berorasi di tribun mewah atau lapangan luas
Namun, mereka adalah pasukan yang lihai menyapu bersih jantung Kota Soppeng
hingga ke lorong – lorong
Pasukan kuning itu bukanlah mereka yang sibuk
Ke kiri ke kanan dengan Avanza
Ke atas ke bawah dengan BMW metalik
Bukan mereka…


Namun mereka adalah pasukan yang sigap di atas truk warna kuning
Didera panas, diserbu hujan, menghirup udara yang telah terkontaminasi
asap knalpot, debu, dan aroma sampah yang ‘wangi’
Sesekali melambaikan tangannya kepada warga Soppeng yang ramah
walau kadang mencibir dan sinis

Mereka tak pernah malu dengan pekerjaan itu
Walau harus bercengkerama dengan aroma kelelawar dan sampah yang mengandung misteri
Yah, sampah yang mengandung misteri
Karena di antara sampah itu mungkin saja ada virus flu manusia, flu burung,
atau barangkali virus flu babi
Mereka tak pernah menyesal
Apalagi mengeluh dan menyalahkan takdir
Karena mereka bangga telah berkorban untuk Bumi Latemmamala


Kala kalong – kalong beterbangan di cakrawala petang
Langit senja merona merah bagai gadis yang tersipu malu
Pasukan kuning itu kembali ke istananya
Menanggalkan pakaian  kebesaran dengan patron debu dan peluh
Kedatangannya telah dinanti oleh buah hati

Senin, 18 Juli 2011

Triologi Cinta

(24 puisi goresan pena siswa XII IPA 3 yang dipadukan dan diuntai menjadi puisi Trilogi Cinta)



Ketika Cinta Menyapa
Dalam suatu alunan nada
Dalam kisah yang kurajut
Bersama cerita dan deritaku (Muhammad Nasrullah : Kisah Kasih)
Cinta  adalah kenangan
Cinta adalah malaikat
Cinta adalah jiwa (Ilham Rusdi: Cinta)
Aku lahir  karena  cinta
Dengan berbagai warna dan rasa ( A. Arni Pratiwi : Aku dan Cinta)
Di sebuah lorong kehidupan  yang hening dan sepi
Terdengar suara lembut nan mesra  (Asmawati)
Mengalun anggun dari singgasana langit
Wajah yang bersinar di ujung pelangi
Mengulum senyum berpatron embun pagi
Ia membawa secawan coklat stroberi
Beralaskan  sulaman benang-benang cinta  (Nur Amaliah Idrus: Coklat Stroberi di Ujung Pelangi)



Ketika Cinta Menyatu
Ketika panah itu menancap jantung   (M. Idris)
Ketika batu itu tertanam di hati (Nasdarita: Suara Hati)
Ketika cahaya itu mendekat  (Musfitasari)
Anganku menembus cakrawala  (Magfirah Nur: Merindumu)
Bulan dan bintang meraih jemariku
Memberiku sekuntum mawar indah (Asni Syamsu Alam)
Dunia  tersenyum (Yeyen Afriliyanti: Cinta)
Matahari bernyanyi (Jumarni)
Menyanyikan lagu Romeo dan Juliet (Nurun Nahri)
Kau babat dengan pedang cintamu
Hercules pun takkan mampu melepaskannya (Waafiah: Pedangmu di Hatiku)
Kutub  tak mampu melelehkan
Bongkahanmu begitu kuat menyatu (Winda Trisna Ayu: Matahariku)
Merasuk ke dalam hati  (Nur Rahmah: Nur Rahmah AR.)
Menggumpal  dan mengalir deras
Hingga ke ujung nafasku  (A. Zainal: Cinta dalam Hati)
Di atas hamparan langit luas (Musdalifah)


Ketika Cinta Pamit
Ketika sang merpati terbang tinggi
Jauh dibalik awan   (Jumriani: Cinta)
Meninggalkan kenangan
Yang tertanam subur di hatiku (Evi Nurvita: Kehilangan)
Goresan luka di lautan perih
Berlumuran kisah yang pedih
Menatap sendu lautan gelora  (Nurul Sulfi Andini: Gelapku untuk Cinta)
Menyatukan kegalauan dalam derita  (Nirwana: Kepergianmu)
Kepergianmu meninggalkan luka
Yang menggumpal  (Agustina: Kepergianmu)
Kekecewaan dan kehancuran
Yang tak bertepi  (Mentari: Terakhir Kalinya)
Namun ku yakin ada masanya
Kan ada satria berkuda putih
Yang mengisi separuh hatiku yang hilang (Ramadhani Arifin: Sebuah Masa di Bulan April)

Senin, 18 April 2011

Kicauan di Mimbar Hijau


Pilih saya...
Pilih saya...
Terus menggema nada-nada sumbang itu...
Politik, ekonomi, atau kemanusiankah????
Tiada yang tahu...
Kicauan itu membayang-bayangi duniaku
Dunia demokratisasi, bukan liberalisasi

Fanatikku pada keyakinan nyata
Berbancuh raga yang telah musnah memudar
Pilih aku...pilih aku
Kicauan di atas mimbar hijau itu mengacaukan setiap mikron sel-sel sarafku
Pilih aku...pilih aku
Berduel dalam fatamorgana dan imajinasi
Enyahlah sudah
Aku lelah
Dalam dunia demokrasi khayalan ini,,,,

Cleopatra di Titian Pelangi

Semerbak wangi kasturi mengiringi aroma cinta
Membelah langit biru yang tak pernah pudar oleh senja
Selaksa edelweis menaburi permata jiwa

Bidadari-bidadari jelita memetik harpa
Menyulam dunia bak pagelaran di kaki langit
Rona cakrawala mengisyaratkan untaian makna
Dalam jiwa dan asa yang sempurna

Cleopatra mendendangkan harmonisasi rasa
Yang terangkai dari melodi dan irama surga
Keindahannya mampu menggetarkan warna warni bianglala
Sungguh keanggunan Sang Pencipta
Terukir abadi di persada kasih
Tak lekang
Selamanya
Bersama api-api rasa yang tergurat senyum indah

Cleopatra bahagia
Setitik senyum di ujung sepasang lesung pipit
Menaburkan cahaya berkilau keemasan
Memancarkan pesona para dewi di singgasana langit
Menari dan berdansa bersama bintang terindah

Cleopatra bersenandung
Menghadiahkan dunia dengan taburan kilau pelangi
Yang tak mampu sirna oleh keangkuhan yang fana
Namun
Mampu melukis indahnya embun pagi
Tak mampu
Terhapus oleh masa dan detakan jantung

Cleopatra kembali tersenyum
Memancarkan cahaya putih bak pegasus penguasa langit
Tersirat berjuta makna di balik senyumnya
Senyum penuh kasih
Persembahan untuk insan dunia

Cleopatra kembali bersenandung
Menghembuskan napas nada-nada cinta
Menyejukkan jiwa
Ibarat salju putih yang suci berkilau
Cleopatra bernyanyi
Tentang lagu yang melukiskan betapa cintanya ia kepada insan dunia
Tentang betapa takluknya ia pada kharisma manusia di persada bumi

Namun...
Bangunlah....
Kini Cleopatra tak pernah lagi tersenyum, bersenandung,  atau berdendang di singgasananya
Ia kini tak bangga kepada insan dunia
Ia kini merajuk mencaci dengan awan kelabu

Tak ada lagi pelangi kasih
Telah sirna bianglala cinta
Telah pudar kharisma yang berkilau
Raib...
Cinta...
Kasih...

Karena
Cinta
Kasih
Dan asa...
Telah sirna di persada bumi

(n.a.i)

Kelak, Panggil Aku Ibu Presiden


Neonkartes otakku menghimpun bermilyar-milyar angka dan kata
Urat nadiku mendenyutkan irama integral, diferensial, dan logaritma
Rangkaian neuron-neuron saraf mengantarkan impuls-impuls asa

Aku ingin menjadi insan yang berharga 
Mampu mengubah dunia dengan doktrin dan paradigma 
Aroma bahagia akan berdansa di antara hidung-hidung pemilik bangsa 
Lantunn kata indah hadir di setiap hembusan napas 
Inilah aku, Nur Amaliah Idrus 
Akan mempersembahkan baktiku kepada negeri 
Hangatkan Indonesia dengan cahaya di antara sela-sela jari dan senyumku

Ini aku yang bercita-cita mengukir mahakarya
Dengan pena platina dan tinta emas bercahaya
Rujukkan cita-cita menjadi presiden bagi agama dan diriku
Untuk itu, aku ingin suatu hari nanti ada yang menyapaku
Selamat pagi Ibu Presiden

Karya: Nur Amaliah Idrus (XII IPA 3)